Jumat, 01 Mei 2020

TUGAS 13

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

Tentang

Pembelajaran Remedial



Disusun Oleh:

NORSAPIRA MARDEKA

(1820119)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing

Yessi Rifmasari,M.Pd


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

ADZKIA PADANG


A. Pengertian perencanaan pembelajaran efektif
 Dryden dan Voss (1999) mengatakan bahwa belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya dan memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak disertai suasana tegang sangat baik dan mendukung untuk membangkitkan motivasi  belajar. Anak-anak pada dasarnya belajar paling efektif pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu yang mengasyikkan. Artinya belajar paling efektif jika dilakukan secara aktif oleh individu tersebut.
            Hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.
Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa dan juga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga memberikan kreatifitas siswa untuk mampu belajar dengan potensi yang sudah mereka miliki yaitu dengan memberikan kebebasan dalam melaksanakan pembelajaran dengan cara belajarnya sendiri.

B. Komponen-Komponen Perencanaan Pembelajaran
Menurut Masitoh dalam bukunya yang berjudul Perencanaan Pembelajaran (2005), bahwa komponen-komponen perencanaan pembelajaran diantaranya terdiri dari:
1. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan komponen pertama dalam perencanaan pembelajaran. Tujuan mengawali komponen yang lainnya. Dalam merencanakan pembelajaran tujuan harus jelas, karena dengan tujuan yang jelas guru dapat memproyeksikan hasil belajar yang harus dicapai setelah anak belajar. Gagasan perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Menurut Robert Mager (1996) “jika kita tidak memiliki gagasan yang jelas tentang tujuan apa yang harus dicapai oleh anak, maka kita tidak akan dapat membuat perencanaan yang baik untuknya”. Sejak pada tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.
Tujuan pembelajaran dapat dijabarkan dari tujuan-tujuan diatasnya. Yaitu sumbernya tujuan pendidikan, tujuan lembaga contohnya tujuan taman kanak-kanak, tujuan bidang pengembangan, tujuan umum yang kemudian dijabarkan kedalam tujuan yang lebih khusus yang biasa dikenal dengan TIK (Tujuan Instruksional Khusus). Tujuan pembelajaran khusus biasabya dirumuskan oleh guru. Karena tujuan khusus ini dirumuskan oleh guru maka guru harus memahami bagaimana cara merumuskan kemampuan atau tujuan pembelajaran khusus. Rumusan tujuan khusus harus menggunakan kata kerja yang operasional, dapat diukur dan harus dapat diamati.

2. Isi (Materi Pembelajaran)
Materi pembelajaran merupakan unsur belajar yang peting mendapat perhatian oleh guru. Materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang “dikonsumsi” oleh siswa. Karena itu, penentuan materi pelajaran mesti berdasarkan tujuan yang hendak di capai, misalnya berita pengetahuan, penampilan, sikap dan pengalaman lainnya.
Nana Sujana (2000) menjelaskan ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran diantaranya :
 Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan
 Materi pelajaran yang di tulis dalam perencanaan pembelajaran terbatas pada konsep saja atau berbantuk garis besar bahan tidak pula diuraikan terinci;
 Menetapkan materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan;
 Urutan materi pelajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas);
 Materi pelajaran di susun dari hal yang sederhana menuju yang komplek, dari yang mudak menuju yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstark. Dengan cara ini siswa akan mudah memahaminya; dan
 Sifat materi pelajaran, ada yang factual dan ada yang konseptual.

3. Kegiatan Pembelajaran
Dalam merancang kegiatan pembelajaran guru harus mengidentifikasi apa yang akan dipelajari oleh setiap anak dan bagaimana anak mempelajarinya. Komponen dalam kegiatan pembelajaran menggambarkan proyeksi kegiatan yang harus dilakukan anak dan kegiatan apa yang dilakukan guru dalam memfasilitasi belajar anak.
Dalam merancang kegiatan belajar, kegiatan harus dirumuskan secara jelas dan rinci. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kegiatan belajar mengajar dapat dicermati sebagai berikut.
a. Kegitan harus berorientasi pada tujuan.
b. Kemampuan yang harus dicapai anak adalah melalui praktik langsung.
c. Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada perkembangan.
d. Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada kegiatan yang integrated yang berpusat pada tema.
e. Kegiatan pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pendidikan.
f. Kegiatan pembelajaran menggambarkan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau peserta didik.
g. Kegiatan pembelajaran harus menggambarkan kegiatan yang menyenangkan.
h. Walaupun penetapan kegiatan berorientasi pada siswa, kegiatan harus memungkinkan bagaimana guru dapat membantu siswa belajar.

4. Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dengan penggunan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dan materi yang baik belum tentu memberikan hasil yang baik tanpa memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran.
Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno (2007) menguraikan beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode anatara lain: tujuan yang hendak dicapai, materi pelajaran, siswa, situasi, fasilitas, dan guru.
Adapun macam-macam metode yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran yaitu:
a) Metode Ceramah;
b) Metode Tanya Jawab;
c) Metode Diskusi;
d) Metode Demonstrasi;
e) Metode Kisah/Cerita;
f) Metode Simulasi. Adapun bentuk-bentuk simulasi anatara lain: peer teaching, sosiodrama, psikodrama, simulasi game, dan role playing;
g) Metode Karya Wisata;
h) Metode Tutorial;
i) Metode Suri Teladan;
j) Pengajaran Tim (Team Teaching);
k) Metode Praktek;
l) Metode Kerja Kelompok;
m) Metode Penugasan; dan
n) Brain Storming.

5. Media dan Sumber Belajar
Media adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercifta lingkungan yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efesien dan efektif (Yudhi Munadi,2008 :8)
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat di pergunakan sebagai tempat di mana materi sumber belajar terdapat. Menurut Nasution (2000) sumber belajar dapat berasal dari masyarakat dan kebudayaannya, ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan siswa. Pemanfaatan sumber belajar tersebut tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya. Sumber belajar tidak hanya terbatas pada bahan dan alat yang di pergunakan dalam proses pembelajaran, melainkan juga tenaga, biaya, dan fasilitas.
Sumber belajar dapat di bedakan menjadi dua, yaitu:
a. Sumber belajar yang di rencanakan adalah semua sumber yang secara khusus telah di kembangkan sebagai komponen system pembelajaran, untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
b. Sumber belajar karena di manfaatkan adalah sumber-sumber yang tidak secara khusus di desain untuk keperluan pembelajaran, namun dapat di temukan, di aplikasikan, dan di gunakan untuk keperluan belajar.
Media dan sumber belajar merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Media dan sumber belajar yang dipilih harus sesuai dengan kegiatan dan dapat memberikan pengalaman yang cocok bagi siswa. Guru juga harus memutuskan bagaimana media dan sumber belajar tersebut di sediakan dan bagaimana kegiatan di organisasikan.
Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah sejauh mana sumber-sumber belajar dapat memberi dukungan terhadap proses belajar siswa. Pemilihan media dan sumber belajar harus mempertimbangkan karakteristik perkembangan dan karakteristik belajar anak. Untuk kelas-kelas yang berpusat pada anak media sudah di tata dalam setiap area. Dengan media dan sumber belajar anak dapat melakukan ekplorasi, observasi dan memungkinkan anak dapat meliatkan seluruh inderanya seperti melihat, menyentuh, meraba, mencium dan merasakan.

6. Evaluasi
Menurut M Sobby Sutikno (2007 :40) evalusi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sedangkan menurut Masitoh,dkk (2005 :47) evaluasi adalah suatu proses memilih mengumpulkan dan menafsirkan informasi utuk membuat keputusan. Dalam perencanaan pembelajaran evaluasi dimaksudkan untuk mengukur apakah tujuan atau kemampuan yang sudah di tetapkan dapat tercapai.
Jadi, evaluasi merupakan aspek yang penting, yang berguna untuk mengukur dan menilai seberapa jauh tujuan pembelajaran telah tercapai atau hingga mana terdapat kemajuan siswa, dan bagaiman tingkat keberhasilan sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
Berdasarkan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 58 (1) evaluasi belajar siswa dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar siswa secara berkesinambungan. Untuk melakukan evaluasi diperlukan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat umum evaluasi yaitu:
a. Validitas;
b. Realiabilitas;
c. Objektivitas;
d. Efisiensi; dan
e. Kegunaan / kepraktisan.
Selain syarat-syarat umum evaluasi diatas, dalam evaluasi juga terdapat teknik-tekniknya. Pada umumnya, teknik evaluasi ada dua macam, yaitu dengan menggunakan tes dan non-tes (M. Sobry Sutikno,2008:118-)
a) Tes
 Ditinjau dari pengukurannya, secara umum tes dibagi menjadu dua, yaitu: (1) Tes kepribadian; dan (2) Tes hasil belajar.
 Ditinjau dari fungsinya tes dibagi atas empat jenis, yaitu tes penempatan, tes formatif, tes diagnostik, dan tes sumatif.
 Ditinjau dari bentuknya, tes dibagi atas tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan.

b) Non-Tes
Yang termasuk teknik nontes, seperti: observasi, wawancara, skala sikap, angket, chek list, dan ranting scale.

C.  prinsip kegiatan pembelajaran efektif

Prinsip kegiatan pembelajaran efektif  sebagai berikut.
1.        Berpusat pada Siswa
2.        Pembalikan Makna Belajar
3.        Belajar dengan Melakukan
4.        Mengembangkan Kemampuan Sosial, Kognitif, dan Emosional
5.        Mengembangkan Keingintahuan, Imajinasi, dan Fitrah Bertuhan
6.        Mengembangkan Keteranpilan Pemecahan Masalah
7.        Mengembangkan Kreativitas Siswa
8.        Mengembangkan Kemampuan Menggunakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
9.        Menumbuhkan Kesadaran sebagai Warga Negara yang Baik
10.     Belajar Sepanjang Hayat
11.     Perpaduan Kemandirian dan Kerja Sama

D.  Indikator pembelajaran yang efektif

Menurut Wotruba dan Wright dalam Uno & Mohamad (2015) tujuh indikator pembelajaran dikatakan efektif, yaitu:
1) pengorganisasian materi yang baik,
 2) komunikasi yang efektif,
 3) penguasaan dan antusiasme terhadap materi pelajaran
 4) sikap positif terhadap siswa
 5) pemberian nilai yang adil
6) keluwesan dalam pendekatan pembelajaran
7) hasil belajar siswa yang baik.

Selasa, 28 April 2020

1.     Prosedur Remedial
         Dalam melaksanakan kegiatan remedial sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
a.   Analisis Hasil Diagnosis
           Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu proses pemeriksaan terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Melalui kegiatan diagnosis guru akan mengetahui para siswa yang perlu mendapatkan bantuan. Untuk keperluan kegiatan remedial, tentu yang menjadi fokus perhatian adalah siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar yang ditunjukkan tidak tercapainya kriteria keberhasilan 80%, maka siswa yang dianggap berhasil.
          Setelah guru mengetahui siswa-siswa mana yang harus mendapatkan remedial, informasi selanjutnya yang harus diketahui guru adalah topik atau materi apa yang belum dikuasai oleh siswa tersebut. Sebelum merancang kegiatan remedial, terlebih dahulu harus mengetahui mengapa siswa mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.
b.      Menyusun Rencana Kegiatan Remedial
                   Setelah diketahui siswa-siswa yang perlu mendapatkan remedial, topik yang belum dikuasai setiap siswa, serta faktor penyebab kesulitan, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana pembelajaran. Sama halnya pada pembelajaran pada umumnya, komponen-komponen yang harus direncanakan dalam melaksanakan kegiatan remedial adalah sebagai berikut;
·         Merumuskan indikator hasil belajar
·         Menentukan materi yang sesuai engan indikator hasil belajar
·         Memilih strategi dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa
·         Merencanakan waktu yang diperlukan
·         Menentukan jenis, prosedur dan alat penilaian.
c.       Melaksanakan Kegiatan Remedial
                 Setelah kegiatan perencanaan remedial disusun,langkah berikutnya adalah melaksanakan kegiatan remedial. Sebaiknya pelaksanaan kegiatan remedial dilakukan sesegera mungkin, karena semakin cepat siswa dibantu mengatasi kesulitan yang dihadapinya, semakin besar kemungkinan siswa tersebut berhasil dalam belajarnya.
d.      Menilai Kegiatan Remedial
                 Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang telah dilaksanakan, harus dilakukan penilaian. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji kemajuan belajar siswa.Apabila siswa mengalami kemauan belajar sesuai yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tetapi, apabila siswa tidak mengalami kemajuan dalam belajarnya berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif.

2. Pengertian pembelajaran  Pengayaan
             Kegiatan pengayaan adalah suatu kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya.
            Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.

3. Tujuan pembelajaran pengayaan

Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan:
1.      Tidak membahas materi pelajaran baru.
2.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi.
3.      Tercapai tingkat perkembangan siswa yang optimal terkait dengan tugas belajarnya.
4.      Memanfaatkan kelebihan waktu bagi siswa yang cepat untuk hal-hal yang positif.
5.      Agar siswa yang tergolong cepat tidak dirugikan karena harus menunggu temannya yang lambat belajar.
6.      Siswa yang cepat tidak mengganggu siswa yang lambat karena kelebihan waktu

4. Prinsip-prinsip pembelajaran  

Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengonsep pembelajaran pengayaan menurut Khatena (1992):
1. Inovasi
Guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik.

2. Kegiatan yang memperkaya
Dalam menyusun materi dan mendisain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya.

3. Merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi
Misalnya dengan memberikan project, pengembangan minat dan aktivitas-akitivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru, hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan terkini.

5. Pelaksanaan pembelajaran pengayaan

Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:
a.  Belajar Kelompok
Belajar kelompok dilakukan dengan cara sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.

b.      Belajar mandiri.
Belajar mandiri dilakukan dengan cara secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
c.       Pembelajaran berbasis tema.
Pembelajaran berbasis tema dilakukan dengan cara memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu


TUGAS 11

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

Tentang

Pembelajaran Remedial



Disusun Oleh:

NORSAPIRA MARDEKA

(1820119)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing

Yessi Rifmasari,M.Pd


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

ADZKIA PADANG

2020
 1.  Pengertian pembelajaran Remedial
                Remedial merupakan suatu bantuan untuk mengatasi kesulitan belajar. Ada beberapa program yang bisa dijalankan atau dijadikan acuan dalam melakukan pengajaran remedial antara lain dalam bidang berhitung, membaca pemahaman dan menulis.
                Remediasi mempunyai padanan remediation dalam bahasa Inggris. Kata ini berakar kata ‘toremedy’ yang bermakna menyembuhkan. Remediasi merujuk pada proses penyembuahan. Remedial merupakan kata sifat. Karena itu dalam bahasa Inggris selalu bersama dengan kata benda, misalnya ‘remedial work’, yaitu pekerjaan penyembuhan, ‘remedial teaching’ – pengajaran penyembuhan. Di Indonesia, istilah ‘remedial’ sering ditulis berdiri sendiri sebagai kata benda. Mestinya dituliskan menjadi pengajaran remedial, atau kegiatan remedial.
2.      Tujuan Remedial
              Tujuan guru melaksanakan kegiatan remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan menguasai kompetensi yang telah ditentukan agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. Secara umum tujuan kegiatan remediasi adalah sama dengan pembelajaran pada umumnya yakni memperbaiki miskonsepsi siswa sehingga siswa dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Secara khusus kegiatan remediasi bertujuan membantu siswa yang belum tuntas menguasai kompetensi ditetapkan melalui kegiatan pembelajaran tambahan. Melalui kegiatan remediasi siswa dibantu untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapinya.

3.      Fungsi Remedial
Fungsi korektif, fungsi korektif ini berarti bahwa melalui pengajaran remedial dapat dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.
Fungsi pemahaman, dengan pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa, atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehensif mengenai pribadi siswa.
Fungsi penyesuaian, pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (proses belajarnya). Artinya, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil yang lebih baik semakin besar.
Fungsi pengayaan, pengajaran remedial akan dapat memperkaya proses pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran regular, akan dapat diperoleh melalui pengajaran remedial.
Fungsi akselerasi, dengan pengajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efisien.
Fungsi terapeutik, ini berarti bahwa secara langsung atau tidak, pengajaran remedial akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan.

4. Prinsip pembelajaran remedial
     Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain:
a. Adaptif
Setiap peserta didik memiliki keunikan sendiri-sendiri. Oleh karena itu program pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing. Dengan kata lain, pembelajaran remedial harus mengakomodasi perbedaan individual peserta didik.

b. Interaktif
Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk secara intensif berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar peserta didik yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai adanya peserta didik yang mengalami kesulitan segera diberikan bantuan.

3. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian
Sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar peserta didik yang berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remedial perlu digunakan berbagai metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

4. Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut yang dialami peserta didik.

5. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian Pelayanan
Program pembelajaran reguler dengan pembelajaran remedial merupakan satu kesatuan, dengan demikian program pembelajaran reguler dengan remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.
5. Metode dalam pembelajaran remedial
              Metode yang digunakan dalam pembelajaran remedial adalah :
1)      Tanya jawab
Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitannya sehingga mempermudah kegiatan bimbingan belajar. Tanya jawab bisa dilakukan secara individual maupun secara kelompok.
Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan adalah :
·         Memahami dirinya .
·         Mengetahui kelebihan dan kekurangannya.
·         Memperbaiki cara belajarnya.
·         Memungkinkan terbinanya hubungan guru dan siswa.
·         Meningkatkan motivasi belajar.
·         Merupakan kondisi yang menunjang pelaksanaan penyuluhan.
·         Menumbuhkan rasa harga diri.

2)      Diskusi
Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar individu dalam kelompok untuk memprbaiki kesulitan dalam belajar yang dialami oleh kelompok siswa.
Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan adalah :
·         Setiap individu dalam kelompok dapat mengenal diri dan kesulitannya serta menemukan jalan pemecahannya.
·         Interaksi dalam kelompok menumbuhkan sikap saling mempercayai dalam kelompok diskusi.
·         Membangun kerjasama antar individu dalam kelompok diskusi.
·         Menumbuhkan rasa kepercayaan diri.
·         Menumbuhkan rasa tanggung jawab.

3)      Tugas
Metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus dan pemberian bantuan, dengan pemberian tugas-tugas tertentu baik secara individual maupun kelompok. Dengan begitu siswa yang mengalami kesulitan dapat tertolong.
Tujuan digunakannya metode ini adalah :
·         Siswa lebih memahami dirinya.
·         Siswa dapat memperluas atau memperdalam materi yang dipelajari.
·         Siswa dapat memperbaiki cara-caara belajar yang pernah dialami.
4)      Kerja kelompok
Metode ini hamper bersamaan dengan metode pemberian tugas dan metode diskusi, yang penting adalah interaksi diantara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan adalah :
·         Adanya pengaruh anggota kelompok yang cakap dan berpengalaman.
·         Kehidupan kelompok dapat meningkatkan minat belajar.
·         Kehidupan kelompok dapat memupuk tanggung jawab dan saling memahami diri

5)      Tutor
Tutor adalah siswa sebaya yang ditunjuk/ditugaskan untuk mrmbantu temannya yang mengalami kesulitan belajar karena hubungan antar teman umumnya lebih dekat dibandingkan dengan gurunya. Dengan petunjuk-petunjuk dari guru, tutor dapat membantu teman-temannya yang sedang mengalami kesulitan. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru. Pemilihan tutor ini didasarkan atas prestasi, punya  hubungan sosial yang baik dan cukup disenangi oleh teman-temannya.
Kebaikan metode ini dalam rangka pengajaran perbaikan adalah :
·         Adanya hubungan yang lebih dekat dan akrab.
·         Tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar.
·         Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab.

6)      Pengajaran individual
Pengajaran individual adalah interaksi antara guru dengan siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan metode ini bersifat individual sesuai dengan kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Materi yang diberikan mungkin pengulangan, mungkin materi baru dan mungkin pengayaan apa yang telah dimiliki oleh siswa.
Pengajaran individual ini bersifat teraputik artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memoerbaiki cara-cara belajar siswa. Untuk melaksanakan pengajaran individual ini, guru dituntut memiliki kemampuan membimbing dan bersikap sabar, ulet, rela, bertanggung jawab, menerima, dan memahami dan sebagainya.
Hasil yang diharapkan dalam pengajaran ini di samping adanya perubahan prestasi belajar juga adanya perubahan dalam permasalahan dalam diri siswa
TUGAS 10
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
“Keterampilan Mengelola Kelas”




Disusun Oleh:
Norsapira Mardeka
(1820119)
Kelas: 4.4 PGSD

Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari, M. Pd





PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) ADZKIA
PADANG
2020

A.     Keterampilan Mengelola Kelas
      1. Pengertian keterampilan mengelolah kelas
  Menurut syaiful bachri Djamarah, penegolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memilihara kondisi belajar  optimal dan membalikkannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.
          menurut kementrian pendidikan dan kebudayaan, pengolaan kelas adalah segala usaha yang di arahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan.  
   dari pendapat diatas dapat disimpulkan pengelolaan kelas adapah upaya yang di lakukan oleh guru meliputi perencanaan, pengaturan, dan pengotimalan berbagai sumber, bahan, serta sarana pembelajaran yang ada di kelas guna menciptakan kegiatan pembelajaran yang efektif dan berkualitas bagi peserta didik.
    2. Tujuan Pengelolaan Kelas
a. Bagi Siswa
a.Mendoromg siswa bertanggung jawab terhadap tingkah laku dan pengendalian diri
b.Membantu siswa memahami tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas
c.Menimbulkan keinginan  berpartisipasi dalam tugas dan bertingkah laku sesuai dengan aktivitas kelas
b. Bagi Guru
a.Mengembangkan keterampilan memelihara kelancaran pengajaran.
b.Mengembangkan keterampilan mengambil langkah-langkah pembelajaran secara tepat.
c.Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensi dalam memberikan pengarahan yang jelas.
d.Memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguan.
    3.  Prinsip-Prinsip Penggunaan
1.  Kehangatan dan keantusiasan
2.Tantangan
3.Bervariasi
4.Keluwesan
5.  Penekanan pada hal-hal yang positif
6. Penanaman kedisiplinan diri
4.Komponen-komponen Keterampilan Mengelola Kelas
1.keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
      belajar yang optimal (bersifat preventif)
a.        sikap Tanggap
b.      Membagi perhatian
c.       Pemusatan perhatian kelompok
2.      Keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi yang optimal
a.       Modifikasi tingkah laku
b.      Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara  memperlancar tugas dan memelihara kegiatan kelompok.
c.       Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. 

 B  Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil
         Menurut Dequeliy dan Gazali (Slameto, 2010: 30) mendefinisikan mengajar adalah menambah pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat
       Ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan adalah kemampuan guru / instruktur / widyaiswara dalam mengembangkan terjadinya hubungan interpersonal yang sehat dan akrab antar guru dengan siswa, maupun antar siswa dan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun perorangan Didi Suprieadi dan Deni Darmawan bandung pt remaja rosdakarya (2012: 158)
        Jadi ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan adalah kecakapan menanamkan pengetahuan yang dilakukan pada sekelompok siswa dan pada siswa secara individu (muhidin, 2011).
1.  Peran Guru
1.Organisator kegiatan belajar mengajar
2.      Sumber informasi bagi siswa.
3.      Pendorong bagi siswa untuk belaja
4.      Orang yang mendiagnosa kesulitan siswa serta memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan siswa
5.      Penyedia materi dan kesempatan belajar bagi siswa
6.      Peserta kegiatan yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti siswa yang lainnya
2.  Syarat-syarat Mengajar
1.       Adanya hubungan yang sehat dan akrab antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa
2.       Siswa belajar dengan kecepatan, kemampuan, cara dan minat sendiri
3.       Siswa mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhannya
4.       Siswa dilibatkan dalam perencanaan belajar
5.       Guru dapat memainkan berbagai peran
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengajar kelompok kecil atau perorangan
1.      Pembelajaran dilakukan berdasarkan perbedaan individu.
2.      Memperhatikan dan melayani kebutuhan siswa
3.Mengupayakan proses belajar mengajar yang aktif dan efektif.
5. Merangsang tumbuh kembangnya kemampuan optimal siswa.
6. Pergeseran dari pengajaran klasikal ke pengajaran kelompok dan perseorangan
7. Langkah pengajaran kelompok kecil dan perorangan.
8. Menggunakan berbagai variasi dalam pengorganisasiannya

Minggu, 26 April 2020


TUGAS 9

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

Tentang

Keterampilan Dasar Mengajar II



Disusun Oleh:

NORSAPIRA MARDEKA

(1820119)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing

Yessi Rifmasari,M.Pd


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

ADZKIA PADANG

2020

A. Kemampuan Membuka Dan Menutup Pelajaran 
     1. Pengertian Membuka pelajaran
    MenurutDjamarah(2005:13) Keterampilan membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan sikap mental dan menimbulkan perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. 
           Menurut Usman(1995:91) Membuka pelajaran ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan   guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prakondisi siswa agar mental dan perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar .
     Djamarah (2005: 139) memberi contoh membuka pelajaran pada pengenalan konsep baru :Guru : Nah, anak-anak! Pada pertemuan kali ini kita akan mempelajari suatu pokok bahasan baru, yakni tentang “ bagun datar”. Tetapi, sebelum kita pelajari lebih lanjut topik itu, cobalah perhatikan dahulu ke depan. Gambar apakah yang ibu pegang ini ? ya, kamu indra!” dan seterusnya. 
      2. Pengertian menutup pelajaran
   Menurut Mulyasa(2005:88-89) Menutup pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk mengetahui pencapaian tujuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari, serta mengakhiri kegiatan pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut kegiatan yang dapat dilakukan guru antara lain meninjau kembali dengan cara merangkum inti pelajaran yang mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan, mengevaluasi memberikan penilaian pada siswa dan juga sebagai balikan perbaikan program pembelajaran, dan Tindak lanjut diberikan agar terjadi pemantapan pada diri siswa terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.
Komponen kemampuan membuka dan menutup pelajaran menurut Usman (1995: 95) meliputi :
           a. Komponen Keterampilan Membuka Pelajaran : 
              (1) Menarik perhatian siswa. 
              (2) Menimbulkan motivasi. 
              (3) Memberi acuan.
              (4) Membuat kaitan atau hubungan                 di antara materi-materi yang akan                dipelajari dengan pengalaman                          yang telah dikuasai siswa.
          b. Komponen Kemampuan Menutup Pelajaran : 
              (1) Meninjau kembali penguasaan                     inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan
               (2) Mengevaluasi. 
                (3) Tindak Lanjut.
     Menurut Mulyasa (2005: 84) mengatakan bahwa upaya yang perlu dilakukan dalam   kegiatan membuka dan menutup pelajaran sebagai berikut :
    a. Membuka Pelajaran Meliputi Kegiatan :
      (1) Menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan materi yang akan disampaikan.
    (2) Menyampaikan tujuan yang akan dicapai dan garis besar materi yang  akan dipelajari (dalam hal tertentu bisa dirumuskan bersama siswa).
  (3) Menyampaikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan tugas￾tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
     (4) Mendayagunakan media dan sumber belajar yang sesuai dengan materi yang disajikan.
   (5) Mengajukan pertanyaan,baik untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap pelajaran yang lalu maupun untuk menjajagi kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari.
    b.  Menutup Pelajaran Meliputi Kegiatan: 
    (1) Menarik kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari  (kesimpulan bisa dilakukan oleh guru, oleh siswa atas permintaan guru, atau boleh siswa bersama guru).
 (2) Mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan dan keefektifan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
(3) Menyampaikan bahan-bahan pendalaman yang harus dipelajari, dan tugas-tugas yang harus dikerjakan.
(4) Memberikan post tes baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan.

B. keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil

    1.  Pengertian keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
         Membimbing secara harfiah dalam istilah asing disebut guide yang berarti  mengarahk memandu, mengelola, dan menyetir.[2] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia    membimbing adalah memimpin, memberi petunjuk, memberi penjelasan lebih dulu.[3]
         Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses teratur yang melibatkan sekelompok siswa dalam interaksi tatap muka yang formal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, dan pemecahan masalah. Siswa berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil dibawah bimbingan guru atau temanya untuk berbagai informasi, pemecahan masalah atau pengambilan keputusan
         Menurut Rusman, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memfasilitasi sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa secara kelompok. Untuk itu keterampialan guru harus dilatih dan dikembangkan, sehingga para guru memiliki kemampuan untuk melayani siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran kelompok kecil.[10]
     Dapat disimpulkan bahwa keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil merupakan  keterampilan yang harus dimilki guru. Keterampilan ini merupakan keterampilan guru dalam memimpin dan memfasilitasi jalannya proses diskusi agar diskusi berjalan dengan efektif.

2. Manfaat dan Tujuan Diskusi Kelompok Kecil
             Penggunaan kelompok kecil dalam kegiatan pembelajaran bertujuan agar siswa siswa : [13]
   1.  Berbagi informasi dan pengalaman dalam memecahkan masalah,
  2.  Meningkatkan pemahaman atas masalh penting
3. Meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan
 4.   Mengembangkan kemampuan berfikir dan berkomunikasi,
5. Membina kerja sama yang sehat, kelompok yang kohesif, dan bertanggung jawab.
    
   3.  Komponen Keterampilan Membimbing Diskusi
         Beberapa komponen yang terdapat dalam keterampilan membimbing diskusi sebagai berikut:[22]
         1.  Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi
               Caranya adalah sebagai berikut :
                a)  Rumuskan tujuan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi Kemukakan    
                     masalah-masalah khusus.
                b) Catat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan.
                c) Rangkum hasil pembicaraan dalam diskusi.
          2.   Memperluas masalah atau urunan pendapat.
                Selama diskusi berlangsung sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas hingga    sukar ditangkap oleh anggota kelompok, yang akhirnya menimbulkan kesalah pahaman hingga keadaan dapat menjadi tegang. Dalam hal demikian tugas guru dalam memimpin diskusi untuk memperjelasnya, yakni dengan cara :
  1)Menguraikan kembali atau merangkum urunan tersebut hingga menjadi jelas.
  2)Meminta komentar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu  mereka memperjelas atau mengembangkan ide tersebut.
  3)Menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan atau contoh-contoh yang sesuai hingga kelompok memperoleh pengertian yang lebih jelas.
           3.    Menganalisis pandangan siswa
                    Didalam diskusi sering terjadi perbedaan di antara anggota kelompok. Dengan demikian guru hendaklah mampu menganalisis alasan perbedaan tersebut dengan cara sebagai berikut :
·         Meneliti apakah alasan tersebut memang mempunyai dasar yang kuat.
·         Memperjelas hal-hal yang disepakati dan yang tidak disepakati.
4.      Meningkatkan urunan siswa
Beberapa cara untuk meningkatkan urunan pikir siswa adalah :
·         Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk berpikir.
·         Memberikan contoh-contoh verbal atau nonverbal yang sesuai dan tepat.
·         Memberikan waktu untuk berpikir
·         Memberikan dukungan terhadap pendapat siswa dengan penuh perhatian.
5.      Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
Penyebaran kesempatan berpartisipasi dapat dilakukan dengan cara :
·         Mencoba memancing urunan siswa yang enggan berpartisipasi dengan mengarahkan pertanyaan langsung secara bijaksana. Misalnya, “Bapak (Ibu) yakin bahwa Nita dapat menjawab. Coba, Nita”
·         Mencagah terjadinya pembicaraan serentak dengan memberikan giliran kepada siswa yang pendiam terlebih dahulu.
·         Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memopoli pembicaraan.
·         Mendorong siswa untuk mengomentari urunan temannya hingga interaksi antar siswa dapat ditingkatkan.
6.      Menutup diskusi
Keterampilan akhir yang harus dikuasi oleh guru adalah menutup diskusi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
·         Membuat rangkuman hasil diskusi dengan bantuan para siswa. Ini lebih efektif dari pada rangkuman hanya dibuat sendiri oleh guru.
·           Memberi gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi ataupun tentang topik diskusi yang akan datang.
·           Mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi yang dicapai
7.      Hal-hal yang harus diperhatikan
·         Mendominasi diskusi sehingga siswa tidak diberi kesempatan
·         Membiarkan siswa tertentu memonopoli diskusi
·         Membiarkan terjadinya penyimpangan dari tujuan diskusi dengan pembicaraan yang tidak relevan.
·         Membiarkan siswa yang enggan berpartisipasi.
·         Tidak memperjelas atau mendukung urunan pikir siswa
·         Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.