Jumat, 13 Maret 2020

TUGAS 5

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

Tentang

PEMILIHAN METODE MENGAJAR


Disusun Oleh:

NORSAPIRA MARDEKA

(1820119)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing

Yessi Rifmasari,M.Pd


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

 ADZKIA PADANG

2020


A.  Hakikat faktor-faktor dalam pemilihan metode mengajar
 Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Pemilihan Metode Mengajar
Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Tujuan pembelajaran atau kompetensi siswa
Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan. Tujuan bidang studi adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu mata pelajaran atau suatu bidang studi. Tujuan pembelajaran (instruksional) adalah tujuan yang harus dicapai dalam suatu pokok bahasan tertentu.
Tujuan pembelajaran khusus dapat dikatakan sebagai enabling objectives artinya tujuan pembelajaran harus dicapai selama proses pembelajaran berlangsung, sedangkan tujuan pembelajaran umum dapat dikatakan sebagai target objectives yang artinya tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai setelah pembelajaran selesai (Gagne, 1978 : 97).
Tujuan pembelajaran berdasarkan ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
1)      Kognitif
(a)  Pengetahuan, lebih menitikberatkan pada kemampuan mengetahui, atau untuk mengingat sesuatu
(b)   Pemahaman, lebih menekankan pada kemampuan menerjemahkan, memahami sesuatu dan seterusnya
(c)    Penerapan, lebih menekankan pada kemampuan membuat, mengerjakan atau menggunakan teori atau rumus
(d)   Analisis, lebih menekankan pada kemampuan mengkaji, menguraikan, membedakan, mengidentifikasi dan seterusnya
(e)    Sintesis, lebih menekankan pada kemampuan menggabungkan, mengelompokkan, menyusun, membuat rencana program dan seterusnya.
2)   Afektif
(a)    Penerimaan, lebih menekankan pada kemampuan peka, atau menerima
(b)   Partisipasi, lebih menekankan pada turut serta pada suatu kegiatan dan kerelaan hati
(c)    Penilaian dan penentuan sikap, lebih menekankan pada menentukan sikap
(d)   Psikomotor
(a)    Persepsi, lebih menekankan pada kemampuan berpendapat terhadap sesuatu dan peka terhadap sesuatu hal
(b)   Kesiapan, kemampuan bersiap diri secara fisik
(c)    Gerakan terbimbing, kemampuan dalam meniru pekerjaan orang lain
(d)   Gerakan terbiasa, keterampilan yang berpegang pada pola
(e)    Gerak yang kompleks, keterampilan yang lincah, cepat dan lancar
2.      Karakteristik Bahan Pelajaran/Materi Pelajaran
Beberapa aspek yang terdapat dalam materi pelajaran, yaitu :
(1)   Aspek konsep, merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan pengertian, atribut, karakteristik, label atau ide dan gagasan tertentu
(2)   Aspek fakta, merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan peristiwa yang lalu, data yang memiliki esensi objek dan waktu
(3)   Aspek prinsip, merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan aturan, dalil, hukum, ketentuan dan prosedur yang harus ditempuh
(4)   Aspek nilai, merupakan substansi materi pelajran yang berhubungan dengan spek perilaku yang baik dan buruk, yang benar dan salah, yang bremanfaat dan yang tidak
(5)   Aspek keterampilan intelektual, merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan pembentukan kemampuan menyelesaikan persoalan atau permasalahan, berpikir sistematis, berpikir logis, berpikir taktis, berpikir kritis, berpikir inovatif, dan berpikir ilmiah
(6)   Aspek keterampilan psikomotor, merupakan substansi materi pelajaran yang berhubungan dengan pembentukan kemampuan fisik.
3.      Waktu yang digunakan
Pemilihan metode mengajar juga harus memperhatikan alokasi waktu yang tersedia dalam jam pelajaran.
4.      Faktor siswa
Aspek yang berkaitan dengan faktor siswa terutama pada aspek kesegaran mental, jumlah siswa dan kemampuan siswa. Guru harus bisa mengelola pembelajaran berdasarkan jumlah siswa dan harus mengatur tempat duduk supaya sesuai dengan kondisi siswa dalam belajar.
5.      Fasilitas, media, dan sumber belajar
Apabila guru dan siswa akan menggunakan alat atau fasilitas maka guru bersangkutan sebelum pembelajaran harus mempersiapkan terlebih dahulu. media pesan lisan harus dapat dipahami siswa sehingga siswa tidak menimbulkan verbalisme.
B.  Jenis-jenis metode mengajar
Metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Setiap metode mengajar memiliki keunggulan dan kekurangan sehingga hal tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih metode tersebut. Kelemahan-kelemahan suat metode harus diantisipasi dan dikaji oleh guru agar dalam penggunaannya dapat efektif.
1.    Metode Ceramah (Lecture)
Metode ceramah merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyampaian bahan ajaran secara lisan dari guru. Ceramah yang baik adalah ceramah bervariasi artinya ceramah yang dilengkapi dengan penggunaan alat dan media serta adanya tambahan dialog interaktif atau diskusi sehingga proses pembelajaran tidak menjenuhkan.
a.       Karakteristik Metode Ceramah
Metode ceramah digunakan apabila proses pembelajaran yang dilakukan lebih bersifat pemberian informasi berupa fakta-fakta atau konsep-konsep sederhana. Dalam prosesnya perlu adanya dukungan kondisi yang efeketif dari guru seperti suasana emosional yang dapat membangkitkan motivasi dan perhatian dari siswa selama mendengarkan ceramah guru.
b.      Prosedur Metode Ceramah
Dijelaskan pada modul prosedur pembelajaran.
c.     Prasyarat Untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Ceramah
Beberapa kemampuan yang harus diperhatikan guru untuk mendukung keberhasilan metode ceramah, yaitu :
(1) Menguasai teknik-teknik ceramah yang memungkinkan dapat membangkitkan minat, dan motivasi siswa
(2)   Mempu memberikan ilustrasi yang sesuai dengan bahan pelajaran
(3)   Menguasai materi pelajaran
(4)   Menjelaskan pokok-pokok bahan pelajaran secara sistemik
(5)   Menguasai aktivitas seluruh siswa dalam kelas
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode ceramah, yaitu :
(1)   Siswa mampu mendengarkan dan mencatat bahan pelajaran yang dijelaskan guru
(2)   Kemampuan awal yang dimiliki siswa berhubungan dengan materi yang akan dipelajari
(3)   Memiliki suasana emosional yang mendukung untuk memperhatikan dan memiliki motivasi mengikuti pelajaran
d.  Keunggulan Metode Ceramah
(1)   Ekonomis waktu dan biaya. Karena waktu dan materi pelajaran dapat diatur oleh guru secara langsung
(2)   Target jumlah siswa akan lebih banyak
(3)   Bahan pelajaran sudah dipilih/dipersiapkan
(4)   Apabila bahan pelajaran belum dikuasai oleh sebagian siswa maka guru akan merasa mudah untuk menugaskan dan memberikan rambu-rambu  pada siswa yang bersangkutan
e.   Kelemahan Metode Ceramah
(1)   Sulit bagi yang kurang memiliki kemampuan menyimak dan mencatat yang baik
(2)   Kemungkinan menimbulkan verbalisme
(3)   Sangat kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi
(4)   Peran guru lebih banyak sebagai sumber pelajaran
(5)   Materi pelajaran lebih cenderung pada aspek ingatan
(6)   Proses pembelajaran ada dalam otoritas guru
2.  Metode Diskusi
Metode mengajar diskusi merupakan cara mengajar yang dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau pertanyaan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat atau keputusan secara bersama.
a.  Karakteristik Metode Diskusi
Penggunaan metode diskusi, bahan pelajaran harus dikemukakan dengan topik permasalahan atau persoalan yang akan menstimulus siswa menyelesaikan permasalahan/persoalan tersebut.
Tugas utama guru dalam kegiatan ini sebagai pembimbing, fasilitator atau motivator supaya interaksi dan aktivitas siswa dalam diskusi menjadi efektif.
b. Prosedur Metode Diskusi
Dijelaskan pada modul prosedur pembelajaran.
c.  Prasyarat Untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Diskusi
Kemampuan guru yang perlu dipersiapkan, yaitu :
(1)   Mampu merumuskan permasalahan sesuai pembelajaran diskusi
(2) Mampu membimbing siswa untuk merumuskan dan mengidentifikasi permasalahan serta menarik kesimpulan
(3)   Mampu mengelompokkan siswa sesuai dengan kebutuhan permasalahan dan pengembangan kemampuan siswa
(4)   Mampu mengelola pembelajaran melalui diskusi
(5)   Menguasai permasalahan yang di diskusikan
Kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan, adalah :
(1)   Memiliki motivasi, perhatian dan minat dalam berdiskusi
(2)   Mampu melaksanakan diskusi
(3)   Mampu menerapkan belajar secara bersama
(4)   Mampu mengeluarkan isi pikiran
(5)   Mampu memahami dan menghargai pendapat orang lain
d.  Keunggulan Metode Diskusi
(1)   Bertukar pikiran
(2)   Menghayati permasalahn
(3)   Merangsang siswa untuk berpendapat
(4)   Mengembangkan rasa tanggung jawab
(5)   Membina kemampuan berbicara
(6)   Belajar memahami pendapat atau pikiran orang lian
(7)   Memberikan kesempatan belajar
e.    Kelemahan Metode Diskusi
(1)   Relative memerlukan waktu yang cukup banyak
(2)   Apabila siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan maka diskusi tidak akan efektif
(3)   Materi pelajaran dapat menjadi lebih luas
(4)   Yang aktif hanya siswa tertentu saja
3.  Metode Simulasi (Simulation)
Proses pembelajaran yang menggunakan simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura.
Jenis model simulasi diantaranya yaitu, bermain peran (role playing), dalam prosesnya pembelajaran metode ini mengutamakan pola permainan dalam bentuk dramatisasi.
Sosiodrama, dalam pembelajaran yang dilakukan oleh kelompok untuk melakukan aktivitas belajar memecahkan masalah yang berhubungan dengan masalah individu sebagai makhluk sosial
Permainan simulasi (simulation games), dalam pembelajarannya siswa bermain peran sesuai dengan peran yang ditugaskan sebagai belajar membuat suatu keputusan.
a.   Karakteristik metode simulasi
Pembinaan kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan interaksi merupakan bagian dari keterampilan yang akan dihasilkan melalui pembelajaran simulasi.
Langsung maupun tidak langsung melalui simulasi kemampuan siswa yang berkaitan dengan bermain peran dapat dikembangkan.
b.   Prosedur metode simulasi
(1)   Menetapkan topik simulasi yang diarahkan guru
(2)   Menetapkan kelompok dan topik-topik yang akan dibahas
(3) Simulasi diawali dengan petunjuk dari guru tentang prosedur, teknik dan peran yang dimainkan
(4)  Proses pengamatan terhadap proses, peran, teknik dan prosedur dapat dilakukan dengan diskusi
(5)   Kesimpulan dan saran dari kegiatan simulasi
c.     Prasyarat untuk mengoptimalkan pembelajaran simulasi
Kemampuan guru yang harus diperhatikan, yaitu :
(1) Mampu membimbing siswa dalam mengarahkan teknik, prosedur dan peran yang akan dilakukan dalam simulasi
(2)   Mampu memberikan ilustrasi
(3)   Mampu menguasai pesan yang dimaksud dalam bahasa simulasi
(4)   Mampu mengamati secara proses simulasi yang dilakukan oleh siswa
Kondisi dan kemampuan siswa yang perlu diperhatikan, yaitu :
(1)   Kondisi, minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam bersimulasi
(2)   Pemahaman terhadap pesan yang akan menstimulasikan
(3)   Kemampuan dasar berkomunikasi dan berperan
d.      Keunggulan metode simulasi
(1)   Siswa dapat melakukan interaksi sosial dan komunikasi dalam kelompoknya
(2) Aktivitas siswa cukup tinggi dalam pembelajaran sehingga terlibat langsung dalam pembelajaran
(3)   Dapat membiasakan siswa untuk memahami permasalahan sosial
(4)   Dapat membina hubungan personal yang positif
(5)   Dapat membangkitkan imajinasi
(6)   Membina hubungan komunikatif dan bekerja sama dalam kelompok
e.   Kelemahan metode simulasi
(1)   Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak
(2)   Sangat bergantung pada aktivitas siswa
(3)   Cenderung memerlukan pemanfaatan sumber belajar
(4)   Banyak siswa yang kurang menyenangi simulasi
4.  Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu sehingga dapat mempelajarinya secara proses. Demonstrasi digunakan semata-mata untuk : (1) mengkonkretkan suatu konsep atau prosedur yang abstrak; (2) mengajarkan bagaimana berbuat atau menggunakan prosedur secara tepat; (3) meyakinkan bahwa alat dan prosedur tersebut bisa digunakan; (4) membangkitkan minat menggunakan alat dan prosedur.
a.  Karakteristik
Dalam pelaksanaan metode mengajar demonstrasi, selain guru yang akan menjadi model juga dapat mendatangkan nara sumber yang akan mendemonstrasikan objek materi pelajaran, dengan syarat harus menguasai bahan materi yang di demonstrasikan, serta mengutamakan aktivitas siswa untuk melakukan demonstrasi tersebut.
b.  Prosedur
(1)   Mempersiapkan alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran
(2)   Memberikan penjelasan tentang topik yang akan di demonstrasikan
(3)   Pelaksanaan demonstrasi bersamaan dengan perhatian dan peniruan dari siswa
(4)   Penguatan (diskusi, tanya jawab, dan atau latihan) terhadap hasil demonstrasi
(5)   Kesimpulan

c.  Prasyarat untuk mengoptimalkan pembelajaran demonstrasi
Kemampuan guru yang perlu diperhatikan :
(1)   Mampu secara proses dalam melaksanakan demonstrasi materi atau topik yang dipraktikan
(2)   Mampu mengelola kelas dan menguasai siswa secara menyeluruh
(3)   Mampu menggunakan alat bantu yang digunakan
(4)   Mempu melaksanakan penilaian proses
Kondisi dan kemampuan siswa yang perlu diperhatikan :
(1)   Siswa memiliki motivasi, perhatian, dan minat terhadap topik yang akan di demonstrasikan
(2)   Memahami tentang tujuan/maksud yang akan di demonstrasikan
(3)   Mampu mengamati proses yang di demonstrasikan
(4)   Mampu mengidentifikasi kondisi dan alat yang digunakan dalam demonstrasi
d.  Keunggulan
(1)   Siswa-siswa dapat memahami bahan pelajaran sesuai dengan objek yang sebenarnya
(2)   Dapat mengembangkan rasa ingin tahu siswa
(3)   Dapat melakukan pekerjaan berdasarkan proses yang sistematis
(4)   Dapat mengetahui hubungan yang structural atau urutan objek
(5)   Dapat melakukan perbandingan dari beberapa objek
e.    Kelemahan
(1)   Hanya dapat menimbulkan cara berpikir yang konkret saja
(2)   Jika jumlah siswa banyak dan posisi siswa tidak diatur maka demonstrasi tidak efektif
(3)   Bergantung pada alat bantu yang sebenarnya
(4) Sering terjadi siswa kurang berani dalam mencoba atau melakukan praktik yang di demonstrasikan
5. Metode Eksperimen
Eksperimen dimaksudkan bahwa guru dan siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dan hasil pekerjaannya.Setelah eksperimen selesai, siswa ditugaskan untuk membandingkan dengan hasil eksperimen yang lain, dan mendiskusikan bila ada perbedaan dan kekeliruan (Winarno:1980:90).
Setiap kegiatan eksperimen harus dilakukan secara sistemik dan sistematis, yaitu harus dimulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan kajian hasil. Lebih mendalamnya siswa harus membuat laporan, kemudian disajikan di depan teman-teman yang lain.
a.  Karateristik
Esensi pembelajaran ini adalah mencobakan sesuatu objek. Untuk mendukung keberhasilan pembelajaran eksperimen segala sesuatunya perlu dipersiapkan dan dikondisikan secara maksimal.mulai dari awal pembelajaran siswa sudah memahami topic eksperimen secara jelas. Demikian pula diakhir kegiatan eksperimen siswa memperoleh kemampuan sikap serta menunjukkan hasil temuan-temuan.
b.  Prosedur
(1)  Mempersiapkan alat bantu (alat eksperimen)
(2)  Petunjuk dan informasi tentang tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam eksperimen
(3)  Pelaksanaan eksperimen dengan menggunakan lembaran kerja/pedoman eksperimen yang       disusun secara sistematis sehingga siswa dalam pelaksanaannya tidak banyak mendapat kesulitan dan membuat laporan
(4) Penguatan perolehan teman-teman eksperimen dilakukan dengan diskusi, tanya jawab dan/atau tugas
(5)   Kesimpulan
c.  Prasyarat untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Eksperimen
Kemampuan guru yang harus diperhatikan agar eksperimen berhasil dengan baik :
(1) Mampu membimbing siswa dari merumuskan hipotesis sampai pada pembuktian dan kesimpulan serta membuat laporan eksperimen
(2)   Menguasai konsep yang dieksperimenkan
(3)   Mampu mengelola kelas
(4)   Mampu menciptakan kondisi pembelajaran eksperimen secara efektif
(5)   Mampu memberikan penilaian secara proses
Kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan untuk menunjang eksperimen :
(1)   Memiliki motivasi, perhatian dan minat belajar melalui eksperimen
(2)   Memiliki kemampuan melaksanakan eksperimen
(3)   Memiliki sikap yang tekun, teliti dan kerja keras
(4)   Mampu menulis, membaca, dan menyimak dengan baik
d.  Keunggulan
(1)   Membangkitkan rasa ingin tahu siswa
(2)   Membangkitkan sikap ilmiah siswa
(3)   Membuat pembelajaran bersifat aktual
(4)   Membina kebiasaan belajar kelompok maupun individu
e.   Kelemahan
(1)   Memerlukan alat dan biaya
(2)   Memerlukan waktu relatif lama
(3)   Sangat sedikit sekolah yang memiliki fasilitas eksperimen
(4)   Guru dan siswa banyak yang belum terbiasa melakukan eksperimen
6.   Metode Karya Wisata
Pembelajaran karya wisata (field trip) artinya aktifitas belajar siswa dibawa keluar kelas. Karya wisata lebih menitikberatkan pada perjalanan yang relatif jauh dari kelas/sekolah untuk mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan topik bahasan yang bersifat umum.
Selain untuk peningkatan kemampuan juga lebih bersifat untuk peningkatan aspek-aspek psikologis siswa.
a.  Karakteristik
Menemukan sumber bahan pelajaran sesuai dengan perkembangan masyarakat, dilaksanakan diluar kelas/sekolah, memiliki perencanaan, aktifitas siswa lebih muncul daripada guru, aspek pembelajaran merupakan salah satu implementasi dari pembelajara berbasis kontekstual.
b.   Prosedur
(1)   Menetapkan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai siswa
(2)   Mempelajari topik karya wisata
(3)   Merumuskan kegiatan yang akan ditempuh
(4)   Melaksanakan kegiatan
(5)   Menilai kegiatan
(6)   Melaporkan hasil kegiatan
c.    Prasyarat Untuk Mengoptimalkan Metode Karya Wisata
Kemampuan guru yang harus diperhatikan :
(1)   Mampu mengidentifikasi objek karya wisata yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
(2)   Mampu membuat perencanaan dan panduan siswa dalam melaksanakan karya wisata
(3)   Mampu mempersiapkan bahan dan alat yang akan digunakan dalam karya wisata
(4) Mampu mengontrol, memfasilitasi dan membimbing aktifitas siswa selama melakukan kegiatan
(5)   Mampu menilai kegiatan karya wisata
Kondisi dan kemampuan siswa yang perlu diperhatikan :
(1)   Mampu memahami petunjuk pelaksanaan karya wisata
(2)   Mampu menyusun laporan hasil karya wisata
(3)   Mampu belajar secara mandiri maupun kelompok
(4)   Mampu menggunakan bahan atau alat yang diperlukan dalam kegiatan karya wisata
d.    Keunggulan
(1) Memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh pengalaman nyata, praktis dan konkret
(2)   Dapat menumbuhkan rasa senang, minat dan motivasi terhadap objek tertentu
(3)   Memberikan masukan terhadap program sekolah
(4)   Mendekatakan siswa dengan lingkungan
e.    Kelemahan
(1)   Memerlukan alokasi waktu yang cukup banyak
(2)   Memerlukan pengawasan dan bimbingan ekstra ketat terhadap aktifitas siswa
(3)   Akan banyak menggunakan biaya
(4)   Jika tidak dikontrol maka siswa selal terlena dengan bermainnya daripada belajarnya
7.  Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah digunakan dalam implementasi pembelajaran terpadu maupun kontekstual karena pembelajaran ini dikembangkan secara integritas antara kemampuan siswa dengan topik bahasan maupun lingkungan.
Metode ini cenderung menggunakan pendekatan kontruktivisme artinya pengetahuan, keterampilan dan sikap akan dikembangkan dan dibangun oleh siswa dibawah bimbingan guru.
a.  Karakteristik
Metode pemecahan masalah merupakan suatu metode ilmiah yang digunakan dalam proses pembelajaran. Metode ini sesuai jika digunakan pada siswa sekolah dasar di kelas tinggi. Cenderung pendekatan induktif yang digunakan dalam proses pembelajaran pemecahan masalah, siswa belajar mulai dari hal-hal yang khusus sampai pada konsep umum.
b.  Prosedur
(1)   Merumuskan dan membatasi masalah
(2)   Merumuskan dugaan dan pernyataan
(3)   Mengumpulkan data atau mengolah data
(4)   Membuktikan atau menjawab pertanyaan
(5)   Merumuskan kesimpulan
c.   Prasyarat untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Pemecahan Masalah
Kemampuan guru yang harus diperhatikan :
(1 Mampu membimbing siswa dari merumuskan hipotesis sampai pada pembuktian dan kesimpulan serta membuat laporan pemecahan masalah
(2)   Menguasai konsep yang di problem-solvingkan
(3)   Mampu mengelola kelas
(4)   Mampu menciptakan kondisi pembelajaran pemecahan masalah secara efektif
(5)   Mampu memberikan penilaian secara proses
Kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan :
(1)   Memiliki motivasi, perhatian dan minat belajar melalui pemecahan masalah
(2)   Memiliki kemampuan melaksanakan pemecahan masalah
(3)   Memiliki sikap yang tekun, teliti dan kerja keras
(4)   Mampu menulis, membaca dan menyimak dengan baik
d.   Keunggulan
(1)   Mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah
(2)   Mengembangkan kemampuan berpikir kritis
(3)   Mempelajari bahan pelajaran yang aktual dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat
(4)   Jika dilaksanakan secara kelompok dapat mengembangkan kemampuan sosial siswa
(5)   Mengoptimalkan kemampuan siswa
e.   Kelemahan
(1)   Waktu yang digunakan relatif lama
(2)   Bahan pelajaran tidak bersifat logis dan sistematis
(3)   Memerlukan bimbingan dari guru

   C.  Hubungan pengalaman belajar dengan metode mengajar
Pengalaman belajar (learning experience) merupakan suatu proses kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar – mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan social yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri siswa (Depdikbud 1990:9).
Pengalaman yang diperoleh siswa dalam pembelajaran dapat berupa pengalaman intelektual, emosional, social, fisik-motorik. Perkembangan itu dicapai melalui serentetan pengalaman, yaitu pengalaman mengindera, seperti melihat dan mendengar. Pengalaman berpikir, seperti mengingat dan menyelesaikan persoalan. Pengalaman sosial, seperti berkomunikasi dan bekerja sama. Pengalaman emosional, seperti dihargai dan dikagumi.
Dalam metode ceramah, pengalaman menyimak merupakan pengalaman yang cenderung banyak diperoleh siswa. Disini akan terjadi proses mental yaitu mengerti dan tidak mengerti, diterima dan tidak diterima.
Pembelajaran melalui diskusi yang dilaksanakan secara efektif akan banyak berdampak terhadap pengalaman siswa. Pengalaman yang diperoleh diantaranya yaitu bekerja sama, menjadi pemimpin/anggota kelompok, mengeluarkan ide atau pendapat, berkomunikasi dalam kelompok dan pengalaman menyimpulkan hasil penyelesaian masalah.
Dalam pembelajaran simulasi secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak terhadap pengalaman belajar siswa, diantaranya dalam berinteraksi, berkomunikasi dalam kelompok, bekerja sama dan menilai proses kegiatan simulasi.
Hal yang perlu diperhatikan dalam metode demonstrasi adalah posisi siswa seluruhnya harus dapat memperhatikan terhadap objek yang akan didemonstrasikan. Pengalaman yang diperoleh yaitu memperhatikan prosedur yang sistematis, mempraktikan keterampilan secara proses, menggunakan alat atau bahan yang sebenarnya.
Dalam pembelajaran eksperimen, pengalaman yang diperoleh hamper sama dengan pembelajaran demonstrasi, tetapi dalam eksperimen juga akan diperoleh pengalaman membanding-bandingkan dengan hasil eksperimen yang lain, mendiskusikan apabila ada perbedaan dan kekeliruan, menemukan suatu konsep dan membuktikan secara proses.
Pengalaman yang diperoleh dari pembelajaran karya wisata yaitu bersosialisasi, bekerja sama, berinteraksi, mengamati dan menilai objek. Pengembangan kemampuan dengan pengalaman memecahkan masalah, mengambil keputusan dan menerapkan ide-ide.



Jumat, 06 Maret 2020

strategi pembelajaran di SD


TUGAS 3

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

Tentang

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif


Disusun Oleh:

NORSAPIRA MARDEKA

(1820119)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing

Yessi Rifmasari,M.Pd


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

 ADZKIA PADANG

2020

A.  Pengertian model pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Menurut Slavin dalam Isjoni (2009: 15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompokkelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 5 orang dengan struktur kelompok heterogen.
Sedangkan menurut Sunal dan Hans dalam Isjoni (2009: 15) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada siswa agar bekerja sama selama proses pembelajaran.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari siswa dengan prestasi tinggi, sedang, dan rendah, perempuan dan laki-laki dengan latar belakang etnik yang berbeda untuk saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar belajar semua anggota maksimal.
B.  Karakteristik pembelajaran  model  kooperatif
Menurut Ibrahim, (2000 h. 6) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik sebagai berikut:
1)   Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar.
2)    Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3)   Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam.
4)   Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa ciri-ciri pembelajaran koperatif yaitu siswa belajar dalam suatu kelompok, kelompok itu dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam, setiap siswa harus 19 bertanggungjawab terhadap kelompoknya, setiap kelompok yang berhasil akan mendapatkan penghargaan.
C.  Pengertian rumpun  model pembelajaran
Model-model pembelajaran dalam rumpun Pemrosesan Informasi bertitik tolak dari Prinsip prinsip pengolahan informasi, yaitu yang merujuk pada cara-cara bagaimana manusia menangani rangsangan dari lingkungan, mengorganisasi data, mengenali masalah, menyusun konsep, memecahkan masalah, dan menggunakan simbol-simbol. Beberapa model pembelajaran dalam rumpun ini berhubungan dengan kemampuan pebelajar (peserta didik) untuk memecahkan masalah, dengan demikian peserta didik dalam belajar menekankan pada berpikir produktif. Sedangkan beberapa model pembelajaran lainnya berhubungan dengan kemampuan intelektual secara umum, dan sebagian lagi menekankan pada konsep dan informasi yang berasal dari disiplin ilmu secara akademis.
Model pembelajaran diartikan sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan siswa, sumber belajar yang digunakan di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang memungkinkan siswa mampu belajar. Di dalam model pembelajaran terdapat karakteristik urutan tahapan kegiata guru dan siswa dalam peristiwa pembelajaran yang dikenal dengan sintaks. Di balik tahapan pembelajaran tersebut terdapat rasional yang merujuk pada suatu teori belajar tertentu. Rasional tersebut merupakan karakteristik yang membedakan satu model dengan  model lainnya (Indrawati, 2000). Dengan demikian suatu model memiliki empat karakteristik yaitu:
·            Landasan teori
·            Tujuan yang harus dikuasai siswa
·            Sintak atau urutan langkah kegiatan guru-siswa
·            Kondisi belajar atau sistem lingkungan pembelajaran
Menurut Udin Winataputra  1994, Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar.
Menurut Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.
D.  Pengertian model pemrosesan informasi
Model ini berlandaskan teori belajar kognitif, yang dimana berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuannya. Menurut Oemar Hamalik (2011: 128-129) Pemrosesan informasi tersebut merujuk bagaimana cara-cara atau menerima informasi stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal. Kemudian menurut Syaiful sagala (2012,74) informasi yang diberikan dalam bentuk energy fisik tertentu (sinar untuk bahan tertulis, bunyi untuk bahan ucapan, tekanan untuk sentuhan, dll) diterima oleh reseptor yang peka terhadap tanda dalam bentuk-bentuk tertentu. Pada model ini, mengutamakan bagaimana membantu siswa agar mampu berpikir produktif, memecahkan masalah dengan kemampuan intelektual yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Model pemprosesan informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengordinasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya. Beberapa model dalam kelompok ini memberikan kepada para siswa sejumlah konsep, sebagian lagi menitikberatkan pada pembentukan konsep dan pengetesan hipotesis, dan sebagian lainnya memusatkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. Beberapa model sengaja dirancang untuk memperkuat kemampuan intelektual umum.
E.  Pengertian model  personal
Pengajaran secara personal adalah kegiatan mengajar guru yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada pembelajaran klasikal, tetapi prinsipnya berbeda.Pada pembelajaran personal, guru memberi bantuan kepada masing-masing pribadi.
Model personal (personal family) merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada proses pengembangan kepribadian individu siswa dengan memperhatikan kehidupan emosional. Hal ini meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri. Model memfokuskan pada konsep diri yang kuat dan realistis untuk membantu membangun hubungan yang produktif dengan orang lain dan lingkungannya.
Model ini bertitik tolak dari teori humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan individu. Perhatian utamanya pada emosional peserta didik dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Menurut teori ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar peserta didik merasa bebas dalam belajar mengembangkan dirinya baik emosional maupun intelektual.
F.   Pengertian model sosial
Model pembelajaran sosial (Sosial Famly) menekankan pada usaha mengembangkan kemampuan peserta didik agar memiliki kecakapan untuk berhubu-ngan dengan orang lain sebagai usaha membangun sikap peserta ddik yang demokratis dengan menghargai setiap perbedaan dalam realitas social. Inti dari model sosial ini adalah konsep “synergy” yaitu energy atau tenaga yang terhimpun melalui kerjasama sebagai salah satu fenomena kehidupan masyarakat.
 Dengan menerapkan model sosial pembelajaran diarahkan pada upaya melibatakn peserta didik dalam menghayati, mengkaji, menerapkan dan menerima fungsi dan peran social. Model sosial ini dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama, membimbing peserta didik mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah, mengumpukan data yang relevan, dan mengembangkan serta menguji hipotesis. Karena itu guru seyogyanya mengorganisasikan belajar melalui kerja kelompok dan mengarahkannya.

Kamis, 05 Maret 2020

Strategi Pembelajaran Di SD


TUGAS 2


STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD


Tentang


Model- Model Belajar dan Rumpun Model Belajar



Disusun Oleh:


NORSAPIRA MARDEKA


(1820119)


Kelas: 4.4 PGSD



Dosen Pembimbing


Yessi Rifmasari,M.Pd






PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


 ADZKIA PADANG


2020

A.  Pengertian model pembelajaran langsung
Menurut Sofan Amri,(2010:39) Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) merupakan salah satu model pengajaran yang dirancang khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
Model pembelajaran langsung merupakan salah satu dari macam-macam model pembelajaran. Model pembelajaran langsung mempunyai Ciri-ciri sebagai berikut:
1)   Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur     penilaian belajar.
2)     Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
3)  Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil. (dalam Kardi &Nur, 2000:3)
Arends dalam Sugiarto (2008:49), Mengatakan: ”Model pembelajaran langsung dikembangkan secara khusus untuk meningkatkan proses pembelajaran para siswa terutama dalam hal memahami sesuatu (pengetahuan) dan menjelaskannya secara utuh sesuai pengetahuan procedural dan pengetahuan deklaratif yang diajarkan secara bertahap”.
B.  Tujuan pembelajaran langsung
Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.
Sebagian besar tugas guru ialah membantu siswa memperoleh pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, misalnya bagaimana cara menggunakan mikroskop, dan bagaimana melakukan suatu eksperimen. Guru juga membantu siswa untuk memahami pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu (dapat diungkapkan dengan kata-kata), misalnya tentang konsep atom, elektron, proton, dan sebagainya.
Model DI dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang IPA merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual). Sedangkan, bagaimana cara mengoperasikan alat-alat ukur, mikroskop, dan sebagainya merupakan contoh pengetahuan prosedural.
Dalam banyak hal, penguasaan terhadap pengetahuan dasar prosedural dan deklaratif terdiri atas kegiatan khusus dan kegiatan berurutan. Misalnya, agar siswa terampil menggunakan alat destilasi untuk memisahkan campuran cair dengan cair (yang berbeda titik didihnya), memerlukan pengetahuan deklaratif tentang nama-nama bagian alat destilasi dan juga pengetahuan prosedural seperti bagaimana merangkai alat-alat destilasi, memanaskan cairan, dan seterusnya.

C.  Tahapan model pembelajaran langsung
Menurut Sofan Amri dan Iif Khoiru (2010, 43-47) Model pembelajaran langsung memiliki lima fase yang sangat penting. Kelima fase dalam pengajaran langsung dapat dijelaskan secara detail seperti berikut:
1.      Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
a)      Menjelaskan tujuan
 Para siswa perlu mengetahui dengan jelas mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pelajaran tertentu, dan mereka perlu mengetahui apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran itu. Guru mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa-siswanya 16 melalui rangkuman rencana pembelajaran dengan cara menuliskannya di papan tulis, atau menempelka informasi tertulis pada papan bulletin, yang berisi tahap-tahap dan isinya, serta alokasi waktu yang disediakan untuk setiap tahap. Dengan demikian siswa dapat melihat keseluruhan alur tahap pelajaran dan hubungan antar tahap – tahap pelajaran itu.
b)      Menyiapkan siswa
Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari.
2.      Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
a)      Menyampaikan informasi dengan jelas
 Kejelasan informasi atau presentasi yang diberikan guru kepada siswa dapat dicapai melalui perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran yang baik. Dalam melakukan 17 presentasi guru, harus menganalisis keterampilan yang kompleks menjadi keterampilan yang lebih sederhana dan dipresentasikan dalam langkah-langkah kecil selangkah demi selangkah.
b)      Melakukan demonstrasi
Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari berasal dari pengamatan terhadap orang lain. Mendemonstrasikan suatu keterampilan atau konsep dengan agar berhasil, guru perlu sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasi untuk menguasai komponen-komponennya.
3.      Menyediakan latihan terbimbing
Salah satu tahap penting dalam pengajaran langsung adalah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan “pelatihan terbimbing”. Keterlibatan siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar berlangsung dengan lancar, dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/ keterampilan pada situasi yang baru.
4.       Menganalisis pemahaman dan memberikan umpan balik
 Pada pengajaran langsung, fase ini mirip dengan apa yang kadang-kadang disebut resitasi atau umpan balik. Guru dapat 18 menggunakan berbagai cara untuk memberikan umpan balik kepada siswa.
5.      Memberikan kesempatan latihan mandiri
 Kebanyakan latihan mandiri yang diberikan kepada siswa sebagai fase akhir pelajaran pada pengajaran langsung adalah pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah atau berlatih secara mandiri, merupakan kesempatan bagi siswa untuk menerapkan keterampilan baru yang diperolehnya secara mandiri.
D.  Pengertian model pembelajaran berbasis masalah
Menurut Sugianto (2009:151) model pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu mencapai tujuan-tujuan seperti meningkatkan keterampilan intelektual dan investigative, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa untuk menjadi pelajar yang mandiri.
Menurut Komalasari (2013:58-59) pembelajaran berbasis masalah adalah: Model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa utuk belajar tentang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran.
Beberapa definisi menurut para ahli di atas dapat penulis simpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam proses kegiatan pembelajaran dengan menggunakan masalah sebagai langkah untuk mengumpulkan pengetahuan, sehingga dapat merangsang siswa untuk berfikir kritis dan belajar secara individu maupun kelompok kecil sampai menemukan solusi dari masalah tersebut. Peran guru pada model pembelajaran masalah yaitu sebagai fasilitator dan membuktikan asumsi juga mendengarkan perspektif yang ada pada siswa sehingga yang berperan aktif di dalam kelas pada saat pembelajaran adalah siswa.
E.  Langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah
Arends (dalam Hariyanto dan Warsono, 2012, h. 401) mengemukakan sintaks pembelajaran berbasis masalah yaitu:
1)   Orientasi siswa pada masalah Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik (bahan dan alat) apa yang diperlukan bagi penyelesaian masalah serta memberikan motivasi kepada siswa agar menaruh perhatian terhadap aktivitas penyelesaian masalah.
2)   Mengorganisasi siswa. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan pembelajaran agar relevan dengan penyelesaian masalah.
3)   Membimbing penyelidikan indvidu maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mencari informasi yang sesuai, melakukan eksperimen, dan mencari penjelasan dan pemecahan masalah.
4)    Mengembangkan dan menyajikan hasil. Guru membantu siswa dalam perencanaan dan perwujudan hasil yang sesuai dengan tugas yang diberikan.
5)   Menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap hasil penyelidikannya serta proses-proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Kesimpulan yang diambil dari pendapat Arends mengenai langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah menurut penulis yaitu pada langkah awal pembelajaran siswa harus mampu merumuskan masalah yang akan dipecahkan dan dipelajari, dan guru bertugas untuk membimbing siswa, selanjutnya siswa harus mampu menganalisis masalah dari berbagai sudut pandang, setelah itu siswa menentukan sebab akibat yang akan dipecahkan atau diselesaikan, untuk memecahkan masalah yang ada siswa harus mengumpulakan informasi atau data dari berbagai sumber yang relevan, kemudian siswa berhipotesis untuk mengahasilkan data yang dibutuhkan dan menarik kesimpulan.